to love someone is to love yourself even more.
Ketika gue menulis di The Stories bahwa "love should make you bloom" dan di It Was Until It Wasn't tentang "you can't love anyone if you don't love yourself", gue nggak tahu kalau hal itu menjadi suara yang penting untuk gue. Suara yang muncul dari rangkaian jatuh cinta yang berkali-kali membuat gue mempertanyakan apa itu cinta.
Apakah cinta hadir untuk mengubah lo? Menyembuhkan luka lo? Memberikan apa yang lo nggak miliki? Atau cinta hadir sesederhana untuk menemani lo bertumbuh dan menjalani hari?
Cinta jadi sesuatu yang penting untuk gue bahkan sejak dua puluh tahun lalu gue mulai menulis. Gue sangat peduli bagaimana cinta menggerakan cerita hidup seseorang ke berbagai arah. Kadang kita ke utara, kadang kita ke tenggara. Semua bisa terjadi atas nama cinta.
Cinta yang berubah jadi benci. Cinta yang berubah jadi duka. Cinta yang berubah jadi amarah.
Tapi sebenarnya, cinta seperti apa yang tepat untuk kita?
Sampai saat ini gue masih belum punya jawabannya, tapi gue tahu cinta membuat kita peduli akan sesuatu. Kita bisa melakukan sesuatu bahkan ketika diri ini merasa enggan untuk bergerak sedikit pun.
Namun, satu hal yang pasti, menurut gue cinta yang tepat membuat lo mencintai diri lo lebih baik. Mungkin mewakili kalimat Ares tentang love should make you bloom. Ketika lo jatuh cinta dan lo mekar seperti bunga, mungkin itu cinta yang tepat untuk lo. Cinta yang membawa lo ke arah lebih baik. Cinta yang menjadikan lo sebagai manusia yang lebih baik.
Tetapi, jika cinta membuat hubungan lo berantakan, mungkin ada yang salah dari perjalanannya. Mungkin lo ingin hidup lo diperbaiki seperti apa yang Dimas mau atau lo menerima segala hal yang bahkan gak pantas untuk lo demi gak sendirian seperti apa yang Alana pilih.
Cinta seperti apa yang tepat untuk kita?
Cukup lama gue mencari, apakah hadirnya cinta membuat hal buruk kita berubah jadi baik-baik saja? Apakah cinta akan mengisi kosong yang hadir di hidup kita? Tapi kali ini, gue rasa cinta nggak sesederhana satu tambah satu jadi dua. Kadang seratus tambah seratus juga jadi nol ketika diri nggak siap untuk menerima cinta.
Kali ini gue menulis lagi. It Was Until It Wasn't bertugas untuk menyadarkan lo bagaimana hurt people could hurt people, and that's it. Jadi apa yang terjadi setelah awareness itu terbentuk? Apakah ada kesempatan kedua untuk mereka yang saling menyakiti atas nama cinta?
Gue menulis untuk mereka yang mahir memberikan cinta tanpa tahu bagaimana cara menerimanya. Untuk mereka yang terlalu membenci diri sendiri sampai harus mengalami kehilangan berkali-kali. Untuk mereka yang jatuh cinta tapi gagal bicara dalam bahasa yang sama.
Namun, satu hal yang pasti, to love someone is to love yourself even more. Dan ketika lo menemukan seseorang yang membuat lo lebih sayang sama diri lo, yang membuat keadaan terasa bisa diatasi ketika bersama-sama, I hope you'll do whatever it takes to keep them forever with you.
And thank you Choi Yeonjun to let me feel this feeling.
I got to love myself even more, because I got to know you and see you love yourself too.
Jadi, mulai hari ini, perjalanan buku ke sembilan gue pun dimulai.
Tidak ada komentar:
Leave me some comment! Thank you, guys:}